Kamis, 10 April 2014

Menatap Semesta [Renungan]

Ikhwah Fillah...

Tatkala kita telah sampai pada titik, dimana kita merasa jenuh dengan aktivitas-aktivitas dakwah, lelah dengan tuntutan amanah yang begitu melimpah, mulai bosan dengan ingar bingar dan carut-marut kehidupan, putus asa, karena melihat kondisi manusia-manusia, yang sampai saat ini, masih saja dalam kondisi tidak sadar.

Tatkala keimanan ini sudah mulai rapuh, kadar asa yang sudah mulai melemah, karena selalu saja menyaksikan, realita lingkungan yang begitu menggelisahkan, fakta lapangan yang sangat jauh dari harapan yang selama ini kita nantikan, entah, sepertinya, hati kecil ini mulai berbicara, bahwa...

Hahhh... 'perjuangan yang kita lakukan ini, sepertinya sudah tidak bisa kita harapkan lagi...'

Ikhwah, tatkala kita telah jatuh pada kondisi seperti itu, telah terjebak dengan situasi semacam itu, maka berhentilah sejenak, rehatkan badan dan pikiran, lalu duduk, dan menepilah...

Cobalah untuk mengalihkan pandangan kita walau sesaat. Alihkanlah pandangangan kita ke atas, ya, ke atas. Lihatlah, diatas sana ada sesuatu yang begitu indah, langit, tataplah semesta itu, tataplah, dan tataplah lagi barang sejenak, cobalah cermati dan hayati, ia begitu luas, sangat luas, membentang luas di antara dua sisi dunia, ufuk timur dan ufur barat kehidupan, ia begitu tenang di dalam keteraturannya, begitu hening dalam diamnya, dan begitu cantik dalam ketaatannya, menjalankan titah tuhan untuk terus menaungi kehidupan ini, dalam kedamaian perputaran waktu.

Tataplah sekali lagi, maka tidaklah kita akan temukan cacat darinya walau sejengkal, tidaklah kita dapati pada dirinya sebuah keretakkan, sungguh, gradasi warna pada dirinya, begitu sangat mengagumkan. Ya, antum benar akhi, ukhti ! Semesta itu adalah Maha Karya Allah, Dzat Yang Maha Agung, yang ada dalam kehidupan ini. Ia merupakan salah satu tanda-tanda Kebesaran-Nya, bagi sesiapa yang mau berfikir barang sejenak, merenungkan dengan mendalam, akan hakikat keberadaannya.

Sungguh, ikhwah, terkadang kita lupa, bahwa Allah Yang Maha Besar, selalu menyertai kita, terkadang kita terlalu dikerdilkan oleh masalah-masalah kehidupan, kita terlalu tertekan dan terlalu larut dalam mengurusinya, sehingga kita lupa untuk menempatkan Allah dalam amal-amal kita, kita lupa, akan Hakikat Kebesarannya, mudah bagi-Nya, membentangkan untuk hamba hamba-Nya, jalan-jalan kemudahan. Kita lupa, bahwa Allah Yang Maha Besar, menyertai kita semua. Astaghfirullah, Allahu Akbar...

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam (agama) Kami, maka Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah, beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.s. al-'Ankabut: 69)"

Tataplah Semesta !


Akhukum fillah.

Minggu, 06 April 2014

Islam dan Peradaban

           Alhamdulillah, tepat pada hari ini, ana mendapatkan pencerahan yang luar biasa tentang makna dari menuntut ilmu bagi seorang muslim, sebuah pencerahan yang didapat melalui forum kajian kecil bersama saudara/i satu LDK, pada acara PIKSEL (Pelatihan Kaderisasi dan Ilmu Keislaman) MT'14, bagi ana, ini bukanlah sekadar kajian biasa yang ada pada umumnya, karena kajian kali ini mengangkat sebuah tema yang cukup berhasil mencuri perhatian hidup ana akhir-akhir ini, ya, sebuah tema tentang Islam dan Peradaban, sebuah tema yang mampu menakjubkan wawasan, ditambah lagi pada kajian kali ini mengundang pemateri yang nampaknya paham betul tentang jalannya peradaban yang sudah tercatat dalam sejarah hidup umat manusia, khususnya umat Islam.

Adalah Ustadz Noorahamat, narasumber pada materi kali ini yang berhasil membuat takjub seluruh peserta yang mendengarkan pemaparan beliau tentang peradaban prestisius yang berhasil dicapai oleh umat Islam terdahulu, yaitu peradaban ilmu. Dengan gaya pemaparannya yang khas dan sangat intelek, ustadz yang merangkap sebagai seorang ilmuwan dan peneliti dalam bidang Astronomi Fisika ini, mampu menguraikan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap peristiwa sejarah yang terjadi, sepanjang perjalanan peradaban islam dalam bidang sains dan teknologi. Pemaparan beliau tentang motivasi untuk berprestasi yang dimiliki oleh ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu, sangat memuaskan logika berpikir mahasiswa.
 
Pada kesempatan kali ini, melalui tulisan yang sangat sederhana, ana ingin mencoba berbagi pencerahan dan pelajaran yang ana dapatkan dari kegiatan ini, kepada akhi/i yang mungkin berhalangan hadir pada kesempatan tadi, disamping juga ingin coba mengikat kembali pengalaman dan pemahaman yang didapat, melalui sebuah tulisan. Dengan menguraikan kembali kata-kata hikmah yang ana dapat dari beliau melalui catatan kecil yang ana buat, semoga, setiap ilmu yang mengalir dari lisan beliau, bisa tersampaikan pula kepada antum semua disini, sehingga menjadi mata rantai, yang membawa energi-energi positif untuk menjalankan kehidupan kita kedepan, kehidupan yang menceritakan sebuah perjalan panjang, tentang mahasiswa penuntut ilmu yang senantiasa gigih dalam belajar, guna menyusun kembali batu-bata peradaban. Semoga bermanfaat.

Perintah Al-Qur’an yang Mengubah Peradaban: IQRO !

Tradisi belajar sejatinya sudah mulai terbentuk dalam kehidupan umat Islam terdahulu, sejak diutusnya Rasulullah Saw. kepada umat manusia di muka bumi oleh Allah Swt. untuk menyampaikan risalah agama Islam. Jauh 14 abad yang lalu, umat ini sudah mengenal betul arti dan makna dari aktivitas belajar, sehingga kita dapati disana bahwa menulis, membaca dan mengajar, itu semua menjadi karakteristik dari peradaban mereka.

IQRO ! Merupakan wahyu pertama yang sampai pada umat ini, sebuah wahyu Allah yang berhasil menggoncang peradaban umat manusia pada saat itu, merubah wajah peradaban dengan motivasi ilmu yang dibawanya. Wahyu ini mengajarkan satu hal penting kepada kita semua bahwa untuk membangun sebuah peradaban yang mulia, dimulai dengan membangun tradisi membaca (iqro), tradisi belajar. Bukan! Bukan perintah Ittaqillah !  Perintah untuk bertaqwa yang merupakan inti dari ajaran islam , yang pertama kali disampaikan Allah Swt. kepada kita semua umat manusia, bukan pula perintah Usjud ! Bersujudlah ! Atau Aamin ! Berimanlah! Bukan akhi… ukhti… Tapi perintah IQRO ! bacalah, bacalah dan bacalah. Mengapa? Karena dengan membaca, dimulai dari membaca pada hari ini, maka hari esok, kita akan menjadi sosok hamba yang bertakwa, bersujud, dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka IQRO !

Adalah kondisi bangsa arab pra-islam pada saat itu sangat terbelakang baik dari aspek moral, agama, sosial hingga aspek intelektual. Seringkali praktik-praktik kebiasaan jahiliyah masih mereka budayakan, dan itu dianggap hal yang lumrah dalam pandangan mata mereka. Dari aspek agama, kita dapati mereka sering kali berkomat-kamit, memohon doa didepan patung berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri, mengundi nasib, meminta petunjuk paranormal, ahli nujum dan sebagainya. Dari aspek sosial maka kita akan dapati gambaran yang begitu keji dan hina, baik dalam masalah pernikahan, perzinahan, penguburan hidup anak perempuan yang semuanya itu bermuara pada pandangan bahwasannya perempuan adalah makhluk yang hina, yang rendah derajat sosialnya ditengah masyarakat, perjudian, minum khamr dan praktik-praktik kejahiliyahan lainnya yang cukuplah bagi kita menyerupakan bangsa ini, selayaknya noktah hitam di tengah peradaban. Na’udzu billah.

Bangsa ini berada di tengah himpitan dua imperium besar, dua peradaban adidaya yang memegang roda kepemimpinan peradaban dunia saat itu, yakni peradaban Yunani dan Romawi. Keterbelakangan Bangsa arab, sejatinya berada diantara dua peradaban yang secara faktual sudah mampan dalam segi ilmu pengetahuan. Dua peradaban ini memiliki karakteristik ilmu pengetahuan yang begitu kentara perbedaannya. Yunani, merupakan sebuah peradaban yang begitu maju dalam bidang ilmu filsafatnya. Peradaban ini berhasil melahirkan filsuf-filsuf besar seperti Plato, Aristoteles dan Socrates yang buah-buah pemikiran filsafatnya, menunjukan bahwasannya bangsa ini sangat senang berwacana dalam permainan logika, mereka sangat takjub dengan daya pikir manusia, sehingga berfikir dan berfikir, lalu mengeluarkan produk pemikiran, adalah karakteristik peradaban mereka. Adapun Romawi, merupakan peradaban yang unggul akan pemahamannya terhadap ilmu pembangunan dan mekanika, sehingga kita dapati kemegahan bangunan-bangunan besar peninggalannya, masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Mereka sangat senang sekali bekerja untuk mendirikan bangunan, sebagai langkah pencitraan bagi peradaban mereka. Kerja dan bekerja, adalah karakteristik bagi peradaban mereka.

Dalam kondisi seperti itu, maka…. DAAAR !! Turunlah sebuah perintah yang berhasil mengubah cerita peradaban saat itu: IQRA ! Kondisi menjadi berubah, bangsa arab yang kaya akan praktik-praktik kejahiliyahannya, kemudian tampil menjadi sebuah bangsa, yang mampu mengambil alih laju roda peradaban. Perintah itu, mampu merubah sebuah peradaban yang semulanya hina, menjadi peradaban yang penuh dengan kemuliaan, peradaban ilmu. Wallahu a’lam.

IMAN DAN PERADABAN CAHAYA

Sejauh ini, penulis yakin bahwa pembaca pasti mengenal beberapa nama Ilmuwan yang pernah ada dalam dunia sains dari barat, sebut saja ilmuwan kaliber seperti Galileo Galilei, Nicolas Copernicus, Isaac Newton, Charles Darwen, Albert Einstein dan sebagainya. Atau dalam dunia sosial mungkin kita tidak asing lagi dengan nama August Comte, yang dikenal sebagai bapak sosiologi, Herbert Spencer, Immanuel Kant, Rese Descartes, dan sederat nama lainnya yang pernah bahkan sering kita dengar pada masa-masa sekolah dulu, hingga berhasil membentuk mindset kita pada waktu itu, bahwa peradaban ilmu hanya terjadi di tanah eropa, hanya terjadi, penulis sampaikan dengan bahasa ini, karena memang porsi informasi yang disampaikan kurikulum pada waktu itu tidak bersifat adil, sehingga kita semua luput, bahwasannya jauh sebelum peradaban itu, ada suatu peradaban yang berhasil dibangun oleh umat Islam, peradaban yang sangat prestisius, peradaban yang begitu gemilang, atau penulis lebih senang menyebutnya sebagai, peradaban cahaya.

Terdapat nama seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Biruni (fisika), Al-Khawarizmi (matematika), Al Jazari (robotik), Al-Abbas (kejiwaan), Ibnu Rusyd (filsafat), ibnu firnas (penerbangan) dan sederat nama lainnya yang menjadi tokoh sentral dalam peradaban itu. Masing-masing dari mereka mengambil peran dalam membangun peradaban cahaya. Sebuah peradaban yang menjadi pionir peradaban kemuliaan,  yang berhasil mengintegrasikan aspek pemikiran dan kerja yang sudah ada sebelumnya dengan sangat harmonis. Peradaban yang telah sampai pada pencapaian yang mampu membuat mata para ahli sejarah masa kini terbelalak. Sebuah pencapaian yang beranjak dari sebuah motivasi keimanan, atau kesadaran vertical dan horizontal, itu bahasa yang dipakai Ustadz Noorahmat untuk menggambarkan pemahaman mereka terhadap Islam. Berawal dari motivasi keimanan, mereka bisa sampai pada peradaban cahaya, sehingga peradaban yang berada disekitarnya pun merasa iri, seraya berkata, “Kok peradaban itu bisa terang sih?"

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Pemahaman mereka terhadap surat al-Baqarah ayat 30 diatas menyadarkan peran mereka yang menjadi salah satu komponen dalam alam semesta ini, adalah sebagai khalifah, pemimpin atau pengelola. Alam semesta atau pada ayat tersebut menggunakan istilah al-Ardh, mencakup di dalamnya tentang bumi, dan juga langit. Mereka berfikir, kalau memang alasan mereka diciptakan di muka bumi sebagai khalifah untuk memberdayakan apa yang ada di langit dan di bumi, maka kita pasti mampu menjangkau, meraih dan mengelola keduanya, but how? Lihat, bermula dari perenungan sebuah ayat, berhasil memacu akal mereka untuk berfikir, pada fase ini, bibit-bibit tradisi berfikir, sudah mulai tampak bagi peradaban ini.

Pada fase selanjutnya, maka kita dapati terobosan luar biasa dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, katakanlah ibnu sina yang berhasil mengkodifikasi ilmu kedokteran dalam sebuah buku yang sangat fenomenal dalam sejarah kedokteran hingga saat ini, Qanun fii Ath-Thiib atau Canon of Medicine, yang semua pencapaian itu beliau mulai, dengan keyakinan teguh atas informasi Rasulullah Saw. Bahwasannya tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya ! Kita beralih dalam bidang matematika sekarang, siapa yang tidak mengenal Al-Khawarizmi ? Terlalu kalau sampai tidak kenal. Hhe. Ilmuwan muslim yang membidangi ilmu matematika dan astronomi ini, digadang-gadang dikenal juga sebagai bapak algoritma.  Beberapa pencapaian yang berhasil dilakukannya dalam bidang matematika adalah, beliau berhasil menemukan rumusan trigonometri: sin, cos dan tangen. Menemukan angka nol, dan yang membuat saya takjub adalah ternyata bilangan arab (0, 1, 2, 3, dst.) merupakan pencapaian hebat beliau, yang manfaatnya bisa kita rasakan saat ini dalam ilmu hitung. Ketahuilah ! Penemuan beliau tentang bilangan arab tersebut, berangkat dari ketaatan beliau untuk menjalankan perintah agama Islam, terkait hukum mawaris/ warisan yang saat itu sangat sulit jikalau dilakukan dengan perhitungan angka romawi (I, II, III, IV, V, dst) yang sudah ada sebelumnya. Dan pencapaian-pencapaian luar biasa lainnya yang tercatat dalam sejarah, yang tidak mungkin penulis uraikan semua di tulisan sederhana ini.

Ikhwah fillah, inilah peradaban kita, peradaban umat Islam, peradaban cahaya yang berhasil diperjuangkan oleh teladan kita semua, Rasulullah Saw. Beliaulah sosok perombak peradaban, yang namanya berhasil menempati posisi nomor 1 sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam sejarah kehidupan manusia. (Michael H. Hart, Sejarawan Barat yang Bersikap Objektif). Beliau adalah seorang nabi bagi umatnya, pemimpin di negaranya, ayah dan suami di keluarganya, pendidik bagi para sahabatnya, komandan perang bagi bala tentaranya yang semua peran itu berhasil dijalankan harmonis oleh beliau, sehingga beliau tampil menjadi sosok yang patut diteladani dan diperhitungkan bagi peradaban. Allahumma sholli wa sallim ‘alaih. Sampaikanlah salam cinta kami, kepadanya. Allahumma Aamiyn.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, penulis ingin sampaikan kata-kata inspiratif dari Ustadz Noorahmat yang sempat terdengar oleh telinga dan mampu meneguhkan keimanan dan kebanggaan terhadap agama ini.

Jadilah sosok-sosok manusia, yang tidak hanya sekedar berfikir bagaimana caranya kita bisa sampai pada syurganya Allah, namun berfikirlah bagaimana kita bisa sama-sama membangun syurga di bumi ini dengan ilmu pengetahuan, sehingga kita kelak, layak masuk syurganya Allah yang jauh lebih indah, dari apa yang sudah kita ciptakan di bumi. 

“Belajarlah, dan berkaryalah, karena hidup ini hanya sebentar, maka jadilah bermanfaat dengan berkarya.” 
“Persepsikanlah Al-Qur’an sebagai bukan sekadar buku-buku yang mengajarakan kita tentang bagaimana cara beribadah kepada Tuhan saja, tapi persepsikanlah al-Qur’an sebagai buku yang mengkodifikasi berbagai ilmu pengetahuan, guna membangun peradaban.”

Akhukum filllah.

Senin, 12 Agustus 2013

Pengurus LDK seharusnya eksklusif?

Menanggapi pernyataan Bpk. Robby, sebagai SCDC Manager merangkap sebagai Dewan Penasehat dalam struktural organisasi LDK MT Al-Khawarizmi yang menyatakan bahwa pengurus dakwah – rohis seharusnya bersifat eksklusif, bersifat khusus, terpisah, tidak disamaratakan dengan semua kalangan, ada benarnya.

Artinya, sebuah 'label' pengurus seharusnya diberikan hanya kepada mereka-mereka yang memenuhi kriteria tertentu, kriteria yang memang diperlukan untuk keberlangsungan sebuah pergerakan dakwah. Kriteria yang biasanya, terpenuhi oleh mereka-mereka yang telah melewati masa-masa pembinaan yang tidak sebentar, mengambil manfaat darinya, dan berkembang karenanya, yaitu tarbiyah. Dan tarbiyah yang berarti pembinaan atau pendidikan lah yang menjadi salah satu ukuran terpenuhi atau tidaknya kriteria tersebut, dan layak atau tidaknya seseorang itu menjadi pengurus dakwah. Tarbiyah yang dengannya mampu membina akal dan jiwa seseorang, serta mematangkan pemahaman sehingga mampu mentransformasi seseorang menjadi individu yang siap dipercayakan amanah dakwah.

Ya, menurut ana, hal ini menjadi sebuah konsep penting yang memang perlu kita perhatikan, mengingat kebesaran dakwah hanya bisa dicapai, jika dan hanya jika pengusung-pengusungnya bergerak dilandasi dengan pemahaman yang baik terhadap hakikat dan tujuan dari dakwah itu sendiri, sebuah pemahaman yang dapat diperoleh melalui jalur tarbiyah, sehingga nantinya mampu mengoptimalkan dedikasi juga kontribusi mereka terhadap peran dakwah apapun yang akan dilakoninya. 

Mencoba menelisik kembali realita dari medan dakwah, yang kita ditakdirkan berada di dalamnya, maka disini kita dapati kondisi yang cukup berbeda dibandingkan dengan kondisi medan-medan dakwah ‘tetangga’ yang ada diluar sana. Ya, kondisi kaum muslimin disini yang masih sangat 'prematur', kurangnya pemahaman terhadap konsepsi dakwah dalam bingkai organisasi, sehingga menjadi sebuah tantangan yang perlu kita jawab dengan segera. Kondisi kaum muslimin yang notabene menjadi objek dakwah yang perlu kita sadari bahwa merekalah yang nantinya akan menjadi penerus dakwah yang kita jalani saat ini, mengharuskan kita,  untuk menetapkan pola-pola tarbiyah selama masa pra-dakwah untuk mereka. Membina, mendidik, dan memahamkan mereka, sebelum dakwah, dan untuk dakwah.

Mencoba mengkritisi metode perekruitan kita yang selama ini nampak di penglihatan, sebuah kritik yang boleh jadi benar namun tidak menutup kemungkian untuk salah. Ana melihat, metode perekruitan yang selama ini kita lakukan masih cenderung tidak terarah dan agak sedikit serampangan. Tidak terarah yang berarti, tidak adanya hubungan input-output yang jelas juga tegas antara agenda yang satu dengan agenda yang lain. Adapun serampangan berarti, merekruit dengan sangat bebas dan asal saja. Kecenderungan kita yang selama ini merekruit secara bebas pengurus, dengan mind-set "yang penting ada yang mendaftar, sudah syukur!", menjadi persoalan yang cukup pelik. Tidak mematok kriteria-kriteria khusus bagi mereka calon pengurus pun akhirnya menjadi masalah. 

Perkara ini menjadi cukup beresiko, mengingat kedepannya mereka-mereka inilah yang akan mempengaruhi kekuatan barisan dakwah kita, agenda-agenda dakwah kita, kepanitiaan  yang  berlangsung, jika kita merekuit secara asal saja, sangat beresiko jika mereka yang terekruit adalah mereka yang memang tidak siap secara pemahaman dan mental, maka akan melemahkan kekokohan barisan dakwah kita yang biasanya tercermin dalam kepanitiaan yang berlangsung, dan biasanya hal ini semakin diperparah lagi dengan ukhuwah yang sedemikaan rapuh, karena memang diisi oleh orang-orang yang tidak se-kufu, tidak sama standar pemahaman dan penghayatannya terhadap dakwah, sekalipun agenda dakwah dapat terlaksa dan berakhir dengan sukses, biasanya disebabkan kerja keras segelintir orang saja, bukan kerja jama'ah, yang terluka karena berjuang di jalan Allah, hanya dia dan dia saja. Pokok masalahnya adalah, kembali kepada lemahnya pemahaman yang ada dari masing-masing individu yang berada di barisan dakwah tersebut.

Ya, memang sangat banyak kriteria-kriteria yang perlu dipenuhi oleh kader-kader dakwah; komitmen terhadap islam, loyalitas terhadap ldk, pemahaman dakwah yang mumpuni, kemampuan manajemen organisasi, kecakapan komunikasi, yang semuanya memang diperlukan agar pergerakan dakwah ini dapat di-operasikan dengan baik dan berdampak sedemikian hebat terhadap lingkungan kampus.

Muncul sebuah pertanyaan, "Kalau terlalu ketat mematok kriteria seperti itu, khawatir tidak ada yang terpenuhi untuk menjadi pengurus dong?" Ya yang perlu dievaluasi itu bukan kriteria-kriteria yang ditetapkannya, tapi persiapan yang sudah kita lakukan untuk memantaskan mereka dengan kriteria-kriteria yang memang dibutuhkan. 

Ya, ana rasa, hal ini menjadi diskursus yang perlu kita ketengahkan untuk kemudian kita cari solusinya bersama. Biidznillah, yakin, selama apa yang kita lakukan disini kita orientasikan untuk mendapatkan keridhoan Allah, pasti akan ada jalan keluarnya. Wa man yattaqillah, yajhal lahu makhroja…

Wallahu a’lam

Rabu, 24 Juli 2013

Catatan Dakwah: Ramadhan 1434 H

Kata-kata mutiara yang tersampaikan melalui lisan-lisan dan tulisan-tulisan kader dakwah MT Al-Khawarizmi, dalam perjuangan dakwahnya di Bulan Ramadhan 1434 H,
Love in PARIS (Pariwisata Ramadhan Islam):

“Keberhasilan bukan semata-mata karena usaha kita, tapi karena pertolongan Allah, pertolongan Allah Swt. sadari kembali hakikat perjuangan kita di sini adalah tentang perjuangan untuk menegakkan Islam di kampus kita.. dan mencari keridhoan-Nya…”

“Tak ada waktu untuk bersantai karena kewajiban lebih banyak dari waktu yang kita punya, Allahumma yassir wa laa tu’assir”

“Jangan lupakan target amalan-amalan Ramadhan kita, tilawah, tahajud, dhuha, hafalan, dll… karena sejatinya kalaupun antum di kepanitiaan ini sampai jatuh bangun berdarah2, kalau amalannya kosong, semangat antum tidak akan bertahan lama… karena ruhnya tidak ada… karena semua berawal dari sini…”

“Jaga ukhuwah, aplikasikan 3 rukunnya (ta’aruf, tafahum dan takaful)”

“Jangan sekali-kali jadikan proker sebagai rutinitas, karena ketika kita sudah menjadikan proker sebagai rutinitas itu bahaya… tidak ada ghirohnya sama sekali”

“Dan semua tergantung kepada niat teman2, mari niatkan ini semua karena Allah…”

“Sejatinya mereka (musuh2 kita) yang memperjuangkan kemunafikan dan makar kejahatan itu tidak akan pernah tidur sampai kita mengikuti mereka, mereka sangat action totalitas terhadap jalan mereka… kita seharusnya yg memperjuangkan jalan kebenaran harus lebih semangat dan totalitas dari mereka…”

“Kita selain aktivis dakwah, juga adalah hamba Allah Swt. jadi tolong jangan lupakam amalan2 yang seharusnya kita lakukan di bulan Ramadhan!”

“Tetap semangat ikhwah, perjuangan menjadi insan yang bertaqwa jangan berkurang…”

“Dakwah adalah totalitas, apapun yang terjadi, tidaklah menjadi alasan bagi kita untuk berhenti dalam dakwah ini, berdakwahlah semampu yang kalian bisa!” 

Andai perjuangan ini mudah, pasti ramai yang menyertainya. ANdai perjuangan ini singkat, pasti ramai yang istiqomah. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia, pasti ramai yang tertarik kepadanya. Tapi hakikat perjuangan bukan begitu. Turun naiknya. Sakit pedihnya. Umpama kemanisan yang tidak terhingga – Hasan al Banna.

“Mari kita kerahkan segala asa yang kita miliki. Jangan pernah ragu untuk berbuat kebaikan di bulan yang penuh berkah ini, ada Allah yang Maha melihat.”

“5 Bekal Aktifis Dakwah: (1) Pantang mengeluh, (2) Pantang sia-sia, (3) Pantang menjadi beban, (4) Pantang kotor hati, (5) Pantang berkhianat”

“Jangan pernah merasa sendiri dalam menjalankan amanah dakwah ini, sampai-sampai kita lupa bahwasannya Allah bersama kita…”

“Tetaplah saling menguatkan dikala yang lain mulai rapuh…
Tetaplah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran…
Tetaplah saling memaafkan tatkala lisan ini sering menyakiti…
Dan ketika masalah menghampiri, bicarakanlah dari hati ke hati agar menghadirkan solusi..”

“Tetap Istiqomah & always keep in al jama’ah…”

Allahu Akbarr  !!!


Catatan Kader Dakwah MT,

21 Juli 2013/ 13 Ramadhan 1434 H

Selasa, 16 Juli 2013

Tadabbur al-Qur'an

"Namanya juga tadabbur, melihat sesuatu dari sesuatu dan kepada akibat-akibatnya yang paling jauh. Yang mau mikir ini biasanya yang punya konsep dan pola pikir.(Ust. Bachtiar Nasir, Lc)"

Apa perbedaan tadabbur dan tafsir?
Tadabbur bisa dilakukan oleh siapa saja, sementara tafsir hanya bisa dilakukan oleh seorang mufassir. Orang berhak mengamalkan al-Qur'an sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Tapi tidak boleh mereka men-tadabburi al-Qur'an sebelum mempelajari tafsir.

Maksud Anda?
Jadi sebelum men-tadabburi sebuah ayat al-Qur'an, peserta saya wajibkan untuk membaca ayat yang ditafsirkan dengan ayat, ayat yang ditafsirkan dengan Sunnah, tafsir ayat menurut Sahabat dan Tabi'in, dan juga pendapat para pakar di bidangnya. Setelah itu barulah pendapat kita masing-masing. Tidak boleh baru baca terjemahan al-Qur'an sudah berani improvisasi tadabbur al-Qur'an.

Mengapa Anda lebih fokus untuk menyajikan tadabbur al-Qur'an ke tengah umat Islam?
Titik akhir dari seseorang mempelajari al-Qur'an adalah bagaimana bisa mengamalkan setiap ayat yang ada dalam al-Qur'an, walau dengan tingkat pengetahuan yang tidak terlalu tinggi. Sekarang ini banyak orang yang mempelajari tafsir hanya sampai pada tingkat afektif, berkutat kosakata, dan keilmiahan. Terutama setelah meluas pemikiran hermeunetika dan gencarnya sekulerisme. Andaikan saya menghabiskan waktu untuk berdiskusi tentang hal ini, wah umat akan kewalahan.

Atas dasar itu saya fokus di tadabbur, karena bagi saya setiap orang itu berhak melihat al-Qur'an dari sudut pandangnya. Tidak mesti kalau saya jadi pengajar tadabbur, lantas lebih benar dari mereka. Namun yang mesti diingat, orang yang mempelajari tadabbur harus sungguh-sungguh, bisa membaca al-Qur'an, dan membaca tafsir yang saya sebutkan tadi. Peserta tadabbur juga saya berikan modul yang isinya empat tafsir tadi.

Tafsir apa yang Anda gunakan dalam modul tersebut?
Yang saya masukan dalam modul itu nyontek semuanya. Tafsir Qur'an bil Qur'an saya nyontek dari Tafsir 'Adwaul Bayan karya Ahmad al-Badawi asy-Syinqithi. Tafsir bi Sunnah saya ambil dari Ath-Thabari dan Ibnu Abbas. Lalu Asbabun Nuzul, saya nyontek dari Al-Wahidi. Sementara, untuk kosa kata saya nyontek dari Al-Ashbahani dan Bil Qaini. Jadi saya tidak membuat yang baru, hanya menyontek dari kitab-kitab tersebut.

Selanjutnya, saya yang akan berimprovisasi sendiri.

Improvisasi bagaimana yang Anda lakukan?
Saya selalu mengaitkan dengan konteks kekinian, walaupun saya tidak bisa jamin persis. Tadabbur yang saya kembangkan di lapangan sebetulnya secara data itu nyontek 100 persen dari tafsir klasik. Kemudian, saya meminta kepada peserta untuk mengeksplorasi, apa pendapat kekiniannya setelah saya install data-data klasik.

Misalnya?
Setiap orang berhak untuk men-tadabburi sebuah peristiwa dikaitkan dengan al-Qur'an. Misalnya saya tanya Dekan Fakultas Geologi ITB, "Apa pendapat antum tentang bencana alam kalau dikaitkan dengan al-Qur'an?" Dia bilang, "Tidak adil Allah kalau Allah nggak bikin bencana di era sekarang, akan habis sumberdaya alam, dan anak cucu kita bisa-bisa tidak kebagian apa-apa." Itu tafsir menurut orang geologi.

Kabarnya Anda juga membawa para peserta ke tempat terjadi bencana hanya untuk mentadabburi ayat-ayat bencana?
Ya, di sana kita melakukan tadabbur al-Qur'an, sekaligus amaliyah. Biasanya kalau dekat, kita pakai bis rombongan kesana. Motivasinya, kita melihat ayat-ayat Allah, bagaimana Allah menunjukkan kekuasaannya yang berbeda dari ketenangan biasanya. Namun kesana tidak hanya iba-iba dan belajar. Harus ada aksi yang dilkaukan. Biasanya aksi yang kita lakukan selama 3 bulan.

Mengaa Anda merasa perlu mengajak peserta mempunyai kepedulian terhadap sesama dengan melakukan amaliyah tadi?
Kalau kita ambil perkataany Abu Darda bahwa tadabbur itu bukan hanya mengerti huruf per huruf, tapi mesti muncul dalam amal. Amal itulah bentuk tadabbur. Ibnu Qayyim juga menekankan bahwa tadabbur itu harus sampai pada tingkat implementasi.

Kalau kita kembali pada zaman Sahabat, generasi al-Qur'an terbaik, saya temukan para Sahabat itu (kalau men-tadabburi al-Qur'an) mulai dari cara baca yang benar, (menelaah) hukum-hukumnya, sampai mereka bertanya bagaimana mengimplementasikannya.


Kamis, 09 Mei 2013

Ramadhan: Momen Pembenahan

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Wash shollatu was sallamu ‘ala Rasulillah.

Ikhwah fillah yang ana cintai karena Allah. Tak terasa, kini kita hampir sampai pada Bulan yang Agung penuh Berkah, yaitu Bulan Ramadhan. Bulan terbaik yang sangat dinantikan mereka-mereka yang mengharapkan berkah, rahmat, ampunan, dan kasih sayang Allah Rabbul Izzati. Waktu berjalan begitu cepat, padahal masih begitu terasa nikmat dakwah saat Ramadhan tahun lalu, suka duka dalam perjuangan di bulan itu. Tak ada kata yang patut kita ucapkan bersama selain syukur Alhamdulillah atas nikmatnya hingga kini kita masih bisa merasakan nikmat hidup dalam naungan Islam dan kita sama-sama berharap semoga kita semua bisa sampai pada Bulan Ramadhan yang mulia.

Ikhwah fillah, Bulan Ramadhan adalah Bulan Besar, penuh keutamaaan di dalamnya, ampunan yang begitu luas, rahmat yang tiada akhir dan berkah yang tiada henti-hentinya Allah turunkan pada bulan ini, sebagaimana Rasulullah Saw. menyampaikan kabar gembira ini kepada kita semua dalam Khutbahnya menyambut bulan Ramadhan,

         “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, pada bulan ini seluruh pintu surga dibuka, seluruh pintu neraka dikunci, syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya maka ia telah terhalang dari kebaikan dan Allah membebaskan hamba-hambanya dari neraka pada setiap malam bulan Ramadhan.”
 (HR. An- Nasa’I, Ahmad dan Al-Baihaqi dengan Sanad Shahih)

          MasyaAllah, betapa besarnya keutamaan bulan Ramadhan, pintu surga dibuka mengartikan Rahmat Allah yang menaungi kita di bulan ini, seiring dengan itu pintu neraka dikunci rapat, semakin meyakinkan kita bahwa kasih sayang Allah benar-benar akan menyertai kita, Allah sangat cinta dengan kita semua. Syetan-syetan akan dibelenggu membuat kita menjadi mudah dalam melakukan amal kebaikan, karena salah satu dari dua faktor kemaksiatan –Bisikan Syetan dan Nafsu Syahwat—ditutup oleh Allah, sehingga benar-benar esensi shaum 
kita berarti berjihad melawan keburukan yang ada dalam diri kita, dan akan ada nantinya satu malam yang sangat Agung., malam Lailatu al-Qadr, satu malam bernilai kebaikan 83 tahun yang hanya diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad Saw. Meresapi hadits ini betapa hati kecil ini kemudian berucap,

          “Allah benar-benar mencintai umat ini…”

Ikhwah Fillah, ini adalah momentum besar, tidaklah patut bagi kita Aktivis Dakwah lalai dari kesempatan berharga ini. Ini adalah bulan Ramadhan yang menjadi momen pembenahan bagi kita semua untuk memperbaiki kembali kekuatan ruhani kita, membersihkan hati-hati kita, meluruskan niat-niat kita, memaknai kembali hakikat dakwah kita,  mempersiapkan perbekalan bagi jiwa kita dan merenungi kembali bahwa Allah... adalah tujuan kita, hingga kemudian selepas Bulan Ramadhan nanti, diharapkan akan tampil kader-kader yang benar-benar dibutuhkan oleh perjuangan dakwah ini, kader-kader yang sangat dirindukan oleh penantian kebangkitan Islam, yakni Kader-Kader yang Bertakwa. Sebagaimana hal ini dapat kita fahami sebagai visi dari Ramadhan itu sendiri, la’allakum tattaquwn(Q.s. al-Baqarah: 183). Ikhwah, inilah yang kita harapkan dari Bulan Ramadhan nanti, yaitu kader-kader dakwah yang bertakwa, kader-kader yang siap mengorbankan jiwa dan raganya di medan perang, dengan keimanan yang tulus lillahi ta'ala. Akhi Ukhtiy, pada bulan Ramadhan nanti, menangislah sejadi-jadinya, bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa yang mungkin kita lakukan tanpa kita sadari, selama setahun penuh ini kita berdakwah, karena boleh jadi, pertolongan Allah dan kemenangan dakwah, itu semua tertunda karena dosa-dosa yang kita lakukan dalam dakwah ini, menangislah penuh harap ampunan-Nya, harap kemengan dari-Nya bagi dakwah ini. Siapkan diri antum untuk bulan pembenahan, bulan kemenangan yang telah disaksikan sepanjang sejarah Islam, bahwa ia mampu membawa prajurit-prajurit kaum muslimin menuju kemenangan ditengah dahsyatnya Perang Badar, kecamuk Perang Ahzab, dan mulianya pembebasan kota Mekah.  

Akhiy Ukhtiy, Kita perlu mempersipkan diri, jauh-jauh hari dua bulan menjelang Ramadhan –Rajab dan Sya’ban— menjadi modal kita bersama untuk mempersiapkan perbekalan : merancang strategi, mengukur standar, dan menetapkan tujuan di dalam bulan Ramadhan.

Menetapkkan Target Pencapaian

          Allah menjanjikan pahala yang tak terkira pada bulan ini, untuk itu jangan sampai kita lalai dan tidak mendapatkan keutamaan ini hanya karena amalan-amalan yang tidak terencanakan dengan baik dan terukur pada bulan ini. Kurangi hal-hal yang tidak membawa manfaat, bermalas-malasan yang hanya membuang waktu kita yang berharga untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Bulan ini kita harus lebih produktif dalam amal, karenanaya penting bagi kita menentukan apa saja yang perlu dilakukan dan dicapai di bulan penuh kebaikan ini. Tetapkan target antum di bulan Ramadhan – Bulan dimana Allah memberi kemudahan bg hambanya untuk beramal sholeh--, niatkan dari sekaran...

Berapa kali antum mau menghatamkan al-Qur’an ? 1 kali, 2 atau 3 kali ?

Berapa Surat yang antum mau hafalkan ?

Berapa besar anggaran yang ingin antum dermakan ?

Shalat sunah yang ingin antum jaga (dhuha, qobliyah, ba’diyah, hajat) ?

Buku-buku bermanfaat yang antum akan baca ?

Akankah menjaga Shalat Berjama’ah?

Akankah menjaga penuh puasa Ramadahan ?

Akankah menjaga penuh shalat tarawih dan witir?

Bertaubat kepada Allah dan menangis sejadi-jadinya ?

Dsb…

Azamkan dari sekarang! Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang gagal dalam Ramadhan nanti, hanya karena kita kalah dalam merencanakannya.
       
           Ikhwah fillah, sungguh perencanaan yang matang dan bijak akan menentukan hasil kita pada akhirnya, untuk itu yuk mari kita sama-sama tetapkan standar amalan kita di bulan Ramadhan nanti, standar Aktivis Dakwah! Memperbaiki aspek ruhani, fikri , jasadi hingga haraki pada diri kita, namun jangan lupa untuk tetap mempersiapkan dengan matang aktivitas dakwah kita di bulan Ramadhan nanti, karena ini merupakan amal jariyah yang akan terus mengalir dan berlipat-lipat balasannya, banyak amal-amal yang bisa mengucurkan pahala dengan deras, dengan mengajak orang lain berkhidmat pada kemuliaan Islam di bulan Ramadhan. Ishlah nafsaka wad’u ghoiruka, perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain.

Standar Amal Harian

Al-imaanu yaziidu wa yanqushu, iman itu naik-turun, fluktuaktif dan tidak konstan, ini semua sudah menjadi sifat yang melekat pada keimanan itu sendiri. Oleh karenanya, penyikapan yang bijak dan tepat di perlukan dalam hal ini, Salah satunya dengan membuat Standar Amal Harian. Masalah ini sangat erat kaitannya dengan Target Pencapaian yang sudah kita bahas diatas, ketika kita berazam untuk menghatamkan al-Qur’an 1 kali di bulan Ramadhan, maka sebelumnya perlu bagi kita membiasakan diri membaca al-Qur’an minimal 1 juz dalam seharinya agar ketika Ramadhan nanti, kita sudah merasa ringan dan tidak merasa terbebani. Membiasakan diri membaca 1 juz al-Qur’an / hari, terus berulang dan istiqomah menjalaninya hingga kemudian kebiasaan ini menjadi Standar Amal Harian di tengah aktivitas hidup kita. Hal ini juga berlaku bagi target-target yang lainnya.

        Bulan Rajab dan Sya’ban sejatinya Allah jadikan sebagai bulan persiapan sebelum memasuki bulan Ramadhan, salah satu persiapan yang perlu dilakukan yaitu membentuk kebiasaan yang memang diperlukan saat Ramadhan nanti. Sebelum memasuki kedua bulan ini, biasakan bagi kita untuk menjaga shalat berjama’ah, dzikir harian, tilawah al-Qur’an, shalat sunah, doa dsb dari sekarang. Biasakan bagi kita melaksanakan shaum yang dianjurkan –Senin Kamis, Ayyamul Bidh, Dhaud--, dan puasa Qodha/ pengganti bagi kita yang mungkin pernah meninggalkan kewajiban puasa saat Ramadhan yang lalu dan belum menunaikannya hingga sekarang. Biasakan, hingga ini semua menjadi 
Standar Amal Harian kita, ruh kehidupan islami kita, hingga kita akan merasa ada yang hilang dari diri kita tatkala meninggalkan salah satunya. Wallahu’alam.   

        Ikhwan wa Akhwat Fillah, sebelumnya mohon maaf atas kesalahan yang pernah ana buat, baik sengaja ataupun tidak. Satu untaian doa kita ucapkan bersama, penuh harap semoga Allah tetap mempertemukan kita bersama hingga Bulan Ramadhan nanti, dalam indahnya dakwah dan ukhuwah…
  اَللَّهُمَّ باَرِكْ لَناَ فِيْ رَجَبَ وَشَعْباَنْ وَبَلِغْناَ رَمَضَانْ
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan 
sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan”

Uhibbukum fillah,
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.