Berpikir adalah salah satu proses pengayaan terhadap otak manusia agar ia mampu berfungsi secara optimal. Sebagai mahasiswa, aktivitas berfikir sudah merupakan kebiasaan yang dijalaninya sehari-hari. Tidak hanya kebiasaan, bahkan aktivitas berfikirpun dengan banyak ragamnya seperti analytical thinking, creative thinking, system thinking, dsb sudah menjadi sebuah standar kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa.
Islam mendidik kita untuk senantiasa mendayagunakan salah satu potensi terbesar dari diri manusia, yaitu akal. Betapa banyak kita dapati ayat-ayat dalam al-Qur’an yang mengajak kita untuk berfikir khususnya berfikir tentang penciptaan alam semesta ini untuk kemudian mengambil hikmah-hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Afalaa tatafakkarun, perkataan ilahi yang merupakan ajakan bagi setiap manusia untuk mau berfikir tentang permasalahan yang terjadi disekitarnya.
Tak terkecuali kita sebagai ADK, berfikir merupakan tuntutan dakwah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang sedang marak terjadi di tengah tubuh umat ini. Menanggapi fenomena-fenomena sekitar hingga kemudian melahirkan sebuah solusikonkret atau alternatif menjadi bukti kontribusi kita terhadap penyelesaian masalah-masalah umat. Pelik memang, menanggapi setiap masalah-masalah yang hadir yang kita sendiri tidak pernah tahu kapan ini semua akan berakhir, namun memang begitulah seharusnya.
Mencoba berfikir kreatif dalam menyelesaikan masalah menjadi salah satu solusi bagi kita ditengah kondisi yang sempit dan sarana yang serba terbatas. Berpikir kreatif dalam Islam setidaknya dipangkali oleh 2 hal yang lahir dari keyakinan orang-orang beriman, (1) Meyakini bahwa setiap masalah yang ada pasti disertai dengan kesanggupan untuk menyelesaikannya, Allah tidak mungkin memberikan beban kepada kita diluar kadar kemampuan kita, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Q.s. al-Baqarah: 286). Ini adalah jaminan dariAllah Swt. Sebuah jaminan yang menurut ana mampu menghilangkan kegundahan dan meneguhkan keyakinan setiap ADK yang kerap kali mengalami kebuntuan terhadap suatu penyelesaian masalah. Ini adalah suatu jaminan besar bagi Allah bahwa tidak ada satupun masalah yang tidak sanggup kita selesaikan, dan dari ayat ini kita dapati pesan yang begitu agung bahwa tidak ada permasalahan yang tidak bisa terselesaikan, selama kita meyakininya dan mau berikhtiar untuk mendapatkannya.Try to thinking creatively !
Selanjutnya ialah (2) mencoba melihat suatu permasalahan dengan pandangan yang terbuka, thinking out the box ! sehingga kitabisa melihat secara holistik atau menyeluruh terhadap suatu permasalahan yang tengah dihadapi sehingga kemudian bisa menentukan solusi tepat untuk penyelesaiannya. Cara berfikir seperti ini tentu harus didasari oleh keluasan pandangan yang dimiliki oleh seseorang yang mana hal ini tidak mungkin didapat kecuali melalui proses belajar, menuntut ilmu. Ilmu-ilmu inilah yang akan meluaskan cara pandang kita terhadap dunia, ilmu yang sejatinya hanyalah milik Allah, cahayaAllah yang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki ketundukan hati terhadap kebesaran-Nya. Dengan ilmu ini diharapkan yaj’allahu-menjadi pembimbing bagi kita- dalam mencari sebuah penyelesaian yang -min haytsu laa yahtasibu- hadir dari arah yang tidak terduga. "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberi jalan ke luar dan rezeki dari arah yang tak terduga." (Q.s. Ath-Tholaaq: 2-3).
Disini ana akan coba ketengahkan sebuah kisah yang semoga mampu menginspirasi kita semua dalam hal berfikir kreatif.
Kaum Muslimin tibadi Ma’in -bagian selatan negeri Syam- dan sudah siap dengan pasukan perangnya yang berjumlah 3000 personil. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat dihadapan mereka terbentang segelar pasukan dalam jumlah besar. Kaisar Heraklius tidak main-main, pemimpin pasukan Romawi itu mengirim armada perang yang jumlahnya mencapai 200.000 personil. Ketidakseimbangan ini sedikit banyak mampu mempengaruhi mental pasukan kaum muslimin. Seseorang diantara mereka mengusulkan agar panglimaperang kaum muslimin membuat surat untuk dikirim ke Madinah, meminta Rasulullahmengirim personil tambahan untuk menghilangkan ketidakseimbangan itu. Namun dengan tegas Abdullah bin Rawahah menolak usulan tersebut, “Tidak! InsyaAlla hdengan keimanan yang melekat pada hati kita, maka kita akan mampu untuk mengalahkan mereka.” Maka dengan bermodalkan keyakinan yang mereka bawa, majulah 3000 pasukan kaum muslimin untuk menghadang 200.000 pasukan romawi.
Peperangan dahsyat tak terelakkan. Pertempuran yang tercatat dalam sejarah itu –Perang Mut’ah--akan menjadi saksi pernah terjadinya benturan antara dua kekuatan besar saat itu. Pasukan kaum muslimin bertarung memperjuangkan kemuliaan Islam, semua kekuatan dikerahkan hingga titik darah penghabisan. Hingga pengorbanan pun tak terhindarkan, panglima perang kaum muslimin satu persatu menjumpai syahidnya. Panglima pertama Zaid bin Haritsah harus lebih dulu merasakan tikaman pedang peperangan untuk mendapatkan syahidnya, disusul oleh Ja’far bin Abi Thalib dan kemudianAbdullah bin Rawahah. Ketiga panglima itu mendapatkan syahidnya persis seperti kabar Rasulullah Saw. sebelum keberangkatan mereka. Kaum muslimin kehilangan pemimpinnya, tidak adanya puncak komando membuat pergerakan kaum muslimin menjadi sangat berantakan dan tidak karuan. Kondisinya sedemikian kacau, hingga kemudian muncul Khalid bin Walid mengambil alih fungsi kepimpinan yang sempat hilang.
Khalid bin Walid tampil sebagai pemimpin, dia menjadi pemimpin ditengah kekacauan yang menimpa tubuh pasukan perang kaum muslimin. Perang sudah berlangsung cukup lama, rasa letih dan goresan pesimisme sudah tampak di wajah-wajah pasukan kaum muslimin. Panasnya padang pasir sudah mampu membakar tubuh kaum muslimin yang sudah mulai lelah bertahan di tengah kondisi yang menghimpit. Kalaulah bukan karena iman,pastilah mereka sudah lari meninggalkan medan peperangan. Khalid menyadari bahwa kemenangan kaum muslimin tidak mungkin dapat tercapai kecuali dengan strategi. Dia memikirkan sebuah cara untuk bisa merubah keadaan, hingga kemudian dia mencoba merombak komposisi barisan yang ada di tengah pasukan kaum muslimin. Khalid merubah posisi pasukan yang berada di sayap kiri menjadi berada di sebelah kanan, begitupun sebaliknya. Pasukan garda depan dirubah dengan pasukan-pasukan selain mereka, dan pasukan-pasukan belakangpun dirubah lalu dipecah hingga menjadi kelompok-kelompok pasukan kecil yang bergerak dalam satu kesatuan. Ini adalah strategi perang yang sangat jitu, pasukan kaum muslimin tampil dihadapan musuh dengan wajah baru. Hentakan kaki barisan infanteri dan kavaleri barisan belakang mampu membuat kepulan debu yang membumbung tingga hingga ke angkasa seakan-akan mereka baru saja mendapatkan pasukan tambahan,dan semua ini mampu mengecoh lawan. Mental lawan pun jatuh, kaum muslimin dengan semangat keimanan dan kreatifitas yang gemilang mampu mengubah kondisi yang ada. Hingga akhirnya kaum muslimin mampu memukul balik pasukan romawi.
Ikhwati Fillah, kita banyak mendapatkan pelajaran dari kisah ini. Kita dapati disini bahwa keyakinan akan adanya jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi membawa pengaruh besar dalam memperoleh sebuah kemenangan berupa kegigihan upaya untuk mencari solusi terbaik bagi masalah-masalah yang dihadapi. Didasari dengan keyakinan dan ikhtiar maka kita akan tetap melangkah maju, bukan sebaliknya.
Wallahi, Islam tidak mendidik kita untuk meratapi dan menyesali kondisi yang kita miliki, tetapi Islam mengajarkan kitauntuk bisa menghadapi setiap kenyataan yang ada. Apapun yang kita miliki saat ini itulah kenyataannya yang harus kita terima dan kita yakini bahwa
“Apapun masalah yang kita dapati hari ini pastilah bisa kita temukan solusinya bersama-sama hingga esok kita akan maju melangkah kedepan bersama-sama. Yakinlah !"
Wallahu ‘alam bish showab.
(Tulisan ini terinspirasi dari buku “Prophetic Learning, ‘Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian’”)
Semoga bermanfaat, mohon maaf atas segala kekurangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar